Melihat Nganjuk dari Interpretasi Peradaban
Nganjuk, sebuah evolusi dari toponimi Anjuk Ladang yang tercatat pada bukti otentik kebudayaan sebagai sebuah wilayah sima. Terletak di sebelah utara Gunung Wilis (2563 mdpl), Nganjuk memegang peranan penting dalam perjalanan kebudayaan Nusantara.
Jejak
peradaban sejak zaman pra sejarah sampai era kolonial bisa kita temui di Nganjuk.
Sebagai wilayah yang berada di kaki gugusan Pegunungan Kendeng Utara—jalur
pegunungan heterogen yang terbentang mulai dari timur Semarang hingga berakhir
di Mojokerto—menjadikan Nganjuk masuk dalam sebaran situs purba.
![]() |
| Fosil gading purba asal Rejoso, koleksi Museum Anjuk Ladang |
Fosil binatang purba yang ditemukan di kawasan hutan jati Lengkong dan Gunung Perahu, Ngluyu, serta fosil gading gajah purba di hutan jati Rejoso membuktikan bahwa Nganjuk masuk pada jalur sebaran peradaban purba zona Sangiran. Sebuah jalur yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pegunungan Kendeng Utara.
Jika
kita alihkan interpretasi tentang peradaban dan kebudayaan ke bagian selatan,
Nganjuk menyimpan jejak-jejak arkeologi di Gunung Wilis. Ada situs Condrogeni
di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan.
![]() |
| Reruntuhan candi di Desa Pesudukuh |
Paling
fenomenal tentunya Candi Ngetos di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos.
Candi
yang menurut kisah tutur masyarakat setempat dibangun oleh seseorang bernama Raden
Condromowo—paman Raja Hayam Wuruk—sebagai tempat penyimpanan abu jasad Hayam
Wuruk kelak jika sudah meninggal. Raden Condromowo juga dikenal dengan nama
Raden Ngabehi Selopurwoto.
Tentu
saja itu hanya forklore. Dari penggunaan nama menunjukkan bahwa kisah tersebut
berasal dari peradaban kebudayaan Jawa Baru. Tidak salah. Masyarakat kita
memang lazim mengabadikan ingatan tentang peradaban masa silam melalui
kisah-kisah tutur yang diturunkan dari masa ke masa.
Jika
merujuk ke Pararaton, Hayam Wuruk yang bergelar Hyang Wekasing Sukha, ketika
meninggal dimakamkan di Tajung. Sebuah nama yang tidak ada kaitannya dengan keberadaan
Desa Ngetos.
Akan
tetapi, jangan lupa bahwa penelitian-penelitian yang pernah dilakukan para
arkeolog dan ahli epigrafi N.J. Krom dan Hoepermas menyebutkan bahwa Candi
Ngetos bercorak Syiwa Wisnu, dibuktikan dengan adanya penemuan arca Syiwa
Wisnu, sebuah agama yang dianut oleh Hayam Wuruk.
Mereka
juga berpendapat bahwa ada candi lain di Ngetos selain candi yang tersisa
sekarang. Candi Tajum mereka menyebutnya. Apakah Tajum versi Krom adalah Tajung
versi Pararaton?
Apapun
interpretasinya, Nganjuk tetaplah sebuah wilayah yang kaya jejak kebudayaan
lintas zaman. Hyang Wekasing Sukha yang dikisahtuturkan abu jasadnya ditanam di
Candi Ngetos tetap menjadi sosok yang menginspirasi saya. Itu sebabnya kemudian
nama pena saya nunggak semi
kepadanya.
Lalu,
apa kaitannya dengan komunitas yang saya ikuti?
Komunitas
Pegiat Literasi Nganjuk, sebuah gerakan yang fokus dalam penguatan literasi
multi sektor, termasuk sektor kebudayaan dan sub sektornya adalah sejarah, memiliki
ikatan emosional kuat dengan saya. Di sana, saya berharap bisa mendapatkan
banyak ilmu keliterasian untuk menopang proses belajar saya di bidang
kebudayaan.
Nganjuk,
5 Oktober 2024
Kevin
Sanghyang Wekasing Sukha.
Literatur:


.jpeg)
Narasi sudah sangat bagus, jeli, dan teratur. Hanya masukan saja, di masa pembelajaran semua kata asing harus diberikan penjelasan atau artinya. Satu lagi, setiap kata yang tidak baku harus dimiringkan.
BalasHapus