Bara di Ujung Mancanegara



Menjelang subuh. Rasi bintang Pari yang biasanya menyisakan kerlip, timbul tenggelam di cakrawala utara Kertosono. Sisa awan menyembunyikannya. Gerimis sesekali masih menyapa permukan Brantas. Seolah mengabarkan bahwa langit masihlah ada. Namun, ia tak benar-benar turun hujan. Sesekali tampak cahaya terang menyambar bentangan angkasa. Bukan kilat atau petir, hanya cahaya yang mengerjap dan membentuk cakar mengerikan. Cakrawala seperti gemetar setiap kali cahaya itu menjilatnya.

 

Orang Jawa menyebutnya thathit. Seperti sebuah isyarat atau gelagat. Tak banyak yang memahaminya, tapi bagi laki-laki itu hanya dengan menghayati kehadiran thathit sudah cukup. Ada kabar yang hendak disampaikan alam. Kabar yang tak terurai dalam kesederhanaan pikir manusia. Namun, tidak demikian baginya. Makin ingin memahami, makin kuat pesan itu memasuki wilayah amarah.

 

Sejak selepas isya’, lelaki itu masih di teras sebuah surau, ditemani dua lelaki lain, tak jauh dari tepi Sungai Brantas. Menunggu gerimis reda. Tak ingin menyeberangi titik-titik air itu. Memilih berteduh dan menunggu. Menghitung gerimis yang malas. Atau angin yang benar-benar nyaris diam. Cahaya-cahaya temaram di sekitar pelataran surau makin meremangkan suasana. Tanaman glagah yang memagari Sungai Brantas, sungguh sunyi, memanjang dan berkelok, namun, di sanalah sesungguhnya mata mereka mengembara.

 

Lelaki itu menyandarkan tubuh pada tembok surau yang mulai lembab. Menggenggam pemantik dan memainkan percikan api. Seperti ada sesuatu yang ingin dia bakar. Entah apa. Sebab rasa was-was menunggu kabar hampir semalam suntuk tak bisa dibakar dengan apa pun. Seperti amarah yang tak bisa dihapus.

 

Menjelang subuh. Biasanya inilah waktunya orang-orang mulai menyeberangi Sungai Brantas menggunakan perahu-perahu kecil dari Bandar menuju Kertosono. Membawa barang-barang palawija dan kebutuhan pokok untuk dijual di pasar kadipaten.

 

Pandangan tiga lelaki makin mengembara ketika perahu pertama dari sisi timur Sungai Brantas mulai melepas tali pengikat lambung perahu. Juru mudi dengan cekatan mengayunkan dayung, memotong aliran Sungai Brantas. Laju perahu sedikit mengikuti arus, membentuk sudut nyaris empat puluh lima derajat, agar perahu tidak dihantam derasnya arus.. Perahu kedua, ketiga, berturut-turut menyusulnya.

 

Sampai di sisi barat Sungai Brantas, penumpang berebut turun. Seorang penumpang perahu, lelaki paruh baya, mengenakan ikat kepala lusuh, memilih menurunkan karung-karung dagangan paling belakang. Membiarkan penumpang lain berjalan mendahuluinya meninggalkan dermaga.

 

Mata tiga lelaki yang semalam suntuk mengamati tempat itu dari surau, langsung tertumbuk kepadanya. Mereka seperti menangkap isyarat dari gerak-gerik tak biasa. Dua puluh langkah berjalan kaki, penumpang perahu sampai di depan surau. Selembar dluwang berwarna coklat yang dilipat sedemikian rupa jatuh atau sengaja dijatuhkan di depan gapura surau. Sementara, tak satu langkah pun penumpang perahu itu berhenti. Dia berjalan makin cepat.

 

***

 

Dluwang berwarna coklat itu telah dibuka. Tumenggung Wiryonegoro segera mencermati guratan yang tertoreh pada dluwang. Matanya sesaat menyipit, menyusul kemudian dahinya yang berkerut. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyelesaikan membaca guratan-guratan aksara yang tertoreh. Dan begitu telah usai, dia segera berkata.

 

“Adipati Japan dan Wirasaba memberi kabar bahwa mereka telah menyerah kepada VOC. Aku diminta agar waspada!”

 

Ucapan sengaja dihentikan sejenak. Dan seluruh orang yang hadir tampak menundukkan wajah mereka dalam-dalam.

 

“Lantas bagaimana menurutmu, Demang Surosentiko?”

 

Sosok yang disebut namanya mengangkat sembah.


“Menurut hemat hamba, tetap tiada patut bagi Kanjeng Adipati untuk menyerahkan Kertosono kepada VOC. Karena sesungguhnya Kanjeng telah memiliki mandat dari Kraton Ngayogyakarta untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah Mataram di ujung timur, Kanjeng!”

 

Demang Surosentiko, bawahan Tumenggung Wiryonegoro menegaskan bahwasanya tidak patut bagi VOC untuk menduduki wilayah Kertosono.

 

Mendengar penuturan Demang Surosentiko, mata Tumenggung Wiryonegoro menyipit. Adalah benar apa yang diutarakan oleh sosok tua pendamping setianya tersebut. Untuk saat ini, tiada patut dirinya menyerahkan Kertosono kepada pemerintahan kolonial. Dirinyalah yang berhak sepenuh-penuhnya untuk mengukuhi satu-satunya wilayah mancanegara timur yang tersisa. Seharusnya, VOC yang harus pergi dari tanah Jawa!

 

“Benar apa yang kamu ucapkan, Surosentiko. Dan untuk itu, jawaban yang akan aku berikan tiada lain adalah menolak untuk menyerah!”

 

Semua orang yang hadir menahan nafas mereka.

 

“Demang Joyosentiko, Demang  Macan Guguh, dan Demang Menjangan Wulung, adakah kalian semua di sini masih tetap punya nyali bersetia sampai mati kepada Mataram?”

 

Seluruh orang yang hadir di tempat itu serentak mengangkat sembah mereka.

 

“Hamba akan membela Kanjeng Adipati hingga pecah dada hamba!” Demang Macan Guguh lantang bersuara.

 

“Kepala hamba akan hamba persembahkan demi keutuhan wilayah Kertosono!” Demang Menjangan Wulung kini yang berkata.

 

“Jiwa raga hamba akan hamba persembahkan kepada Kadipaten Kertosono!” Demang Joyosentiko berucap.

 

Semua menyatakan kesetiaan mereka sebagai wujud dari dharma kesatria. Mereka akan membela Tumenggung Wiryonegoro dan Kadipaten Kertosono mereka hingga pecahnya dada, tumpahnya darah dan lepasnya kepala! Sang Adipati mengangguk-angguk mantap.

 

“Demang Surosentiko!”

 

Yang dipanggil namanya segera bersembah kembali.

 

“Singgih, Kanjeng!”

 

“Tuliskan perintahku ini!”

 

Demang Surosentiko bergegas mengeluarkan selembar dluwang yang senantiasa dibawanya. Demang Surosentiko adalah seorang bawahan kesukaan Tumenggung Wiryonegoro. Sehari-hari dia membawahi Rejoso merangkap juru tulis kadipaten yang memiliki tugas mencatat segala sesuatu yang diperlukan oleh adipati. Dan ke mana pun dia pergi, dluwang dan pena senantiasa dia bawa. Begitu dluwang telah terpegang di tangan kiri, dengan menggunakan tatakan meja, Demang Surosentiko telah bersiap mengguratkan perintah adipati.

 

“Salam! Kepada Tuan Gubermen. Selama di bumi Jawa masih berlaku bahwa Sultan Hamengkubuwana di Ngayogyakarta yang memiliki hak penuh atas kekuasaan di wilayah yang saya pimpin, maka selama itu pula, saya ini tiada akan pernah tunduk kepada Tuan. Oleh karena itu, jalan peperangan harus kita tempuh jika ingin menundukkan Kertosono.”

 

Demang Surosentiko tergopoh-gopoh mengguratkan ucapan Tumenggung Wiryonegoro.  

 

“Tuliskan secara lengkap nama dan gelarku! Adipati Kertosono, KRT Wiryonegoro!”

 

Agak memakan waktu Demang Surosentiko mengguratkan aksara di atas selembar dluwang. Dan begitu telah selesai, dia segera mempersembahkan dengan kedua tangan ke hadapan Tumenggung Wiryonegoro. Dluwang itu diterima, diteliti dan dibaca dengan seksama. Begitu selesai membaca segera diserahkan kepada Demang Jayasentiko. Dluwang diterima dengan kedua tangan oleh demang sepuh itu.

 

“Kirimkan kepada Tuan Gubermen di Surapringga segera, Paman!”

 

Demang Joyosentiko mengangkat sembah.

 

“Hamba, Kanjeng Adipati!”

 

“Dan kalian Demang Macan Guguh dan Menjangan Wulung!”

 

Demang Macan Guguh dan Menjangan Wulung bersembah.

 

“Singgih, Kanjeng!”

 

“Persiapkan seluruh pasukan yang ada! Kita akan melakukan perang puputan!”

 

“Singgih, Kanjeng! Hamba butuh dua hari untuk mengumpulkan pasukan Mataram yang tersisa di Rejoso, Gondang, Lengkong, dan Gebang!”

 

“Bagus! Dua hari adalah waktu yang cukup bagiku! Dan kalian semua yang hadir di pendopo ini!”

 

Demang Surosentiko, Demang Joyosentiko, Demang Macan Guguh, dan Demang Menjangan Wulung hampir bersamaan menghaturkan sembah mereka.

 

“Persiapkan diri kalian sebaik-baiknya!”

 

“Singgih, Kanjeng!”

 

“Kalaupun harus mati, aku bangga mati bersama kalian, para kesatria tanah Jawa!”

 

Seluruh yang hadir mengangkat sembah dengan tangan gemetar karena haru!

 

***

 

Syahdan, berminggu-minggu Kadipaten Kertosono dikepung dari udara dan darat. Hujan mimis bedhil dan meriam yang awalnya hanya berasal dari timur Sungai Brantas, mulai merangsek ke barat, menyeberang. Perang kota pun pecah. Tumenggung Wiryonegoro tetap bergeming tinggal di kadipaten.

 

Di pendopo, pertemuan antara Demang Surosentiko dan Tumenggung Wiryonegoro tak menghiraukan hiruk-pikuk suara letusan dari perang yang beberapa hari mulai pecah di pusat kota kadipaten. Keduanya tampak larut dalam pembicaraan yang serius.

 

“VOC makin mengamuk. Serdadu tambahan dari Surapringga, Japan, dan Wirasaba mulai berdatangan. Pasukan kita sudah mulai kewalahan. Kita harus menyingkir ke utara, menyusun pertahanan baru di Gebang, Gusti!” Demang Surosentiko melapor ke adipati.

 

“Aku diperintahkan ayahanda mertua, Kanjeng Sultan Hamengkubuwana untuk memimpin Kertosono. Biarlah darahku tumpah di tanah Kertosono,” sanggah Tumenggung Wiryonegoro.

 

“Kami paham. Namun, keselamatan Kanjeng Adipati harus kami junjung tinggi!”

 

“Bawalah sisa-sisa pasukan kita ke utara, Surosentiko. Lakukan perang puputan di sana. Beri pelajaran kepada Kompeni bahwa Kertosono tidak pernah menyerah hingga kstarianya mati berkalang tanah!”

 

Obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara teriakan dari halaman pendopo kadipaten, “Lindungi Kanjeng Adipati! Lindungi Kanjeng Adipati!”

 

Sebuah letusan bedhil serdadu VOC menyasar dada Tumenggung Wiryonegoro. Disusul puluhan letusan mimis lain, datang silih berganti, menghujani tubuh sang adipati tiada henti, terus menerus seperti gelombang laut pasang. (*)

 

Nganjuk, 9 Oktober 2024

Kevin Sanghyang Wekasing Sukha, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah di UNP Kediri, kini bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk.

 

#NomorPeserta22

#TugasPekan1

#Kopling

 

Daftar pustaka:

Eko Jarwanto (2022). Kemelut di Ujung Mancanegara Timur. Lamongan. Pagan Press.

Ilustrasi diolah dari pixabay.

 

Catatan:

Setelah Japan dan Wirasaba berhasil dirampas oleh VOC pada tahun 1812, maka praktis posisi wilayah Kertosono saat itu menjadi bagian paling ujung dari kawasan Mancanegara Timur, milik Kesultanan Yogyakarta.

 

Sebagai wilayah yang berada pada garis terdepan perbatasan, maka wilayah Kertosono yang dipimpin Tumenggung Wiryonegoro berusaha keras menentang kehadiran pihak kolonial Belanda dengan gigih. Puncaknya, saat memasuki periode Perang Jawa pada tahun 1825-1830, terjadi pertempuran yang hebat antara beliau bersama pasukannya untuk melawan pihak kolonial.

 

Mancanegara = bagian dari kerajaan-kerajaan Jawa paling luar dari pusat keraton. Wilayah ini dalam sejarahnya selalu menjadi ajang perebutan kekuasaan dan peperangan.

Thatit (bahasa Jawa) = petir, halilintar.

Dluwang (bahasa Jawa) = kertas.

Japan = nama lama Mojokerto.

Wirasaba = nama lama Jombang.

Surapringga = nama lama Surabaya.

Singgih (bahasa Jawa) = Iya.

Mimis (bahasa Jawa) = Pelor, peluru.

Bedhil (bahasa Jawa) = senapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa

Airlangga

Sengketa Bangunan Bersejarah Eks Hotel Wilhelmina di Kota Nganjuk: Warisan Kolonial yang Diperebutkan